5 Jenis File Audio Beresolusi Tinggi Dan Perbedaannya - Audume.com

Breaking

Rabu, 04 November 2020

5 Jenis File Audio Beresolusi Tinggi Dan Perbedaannya

5 Jenis File Audio Beresolusi Tinggi Dan Perbedaannya
Audio beresolusi tinggi (Hi-Res Audio) adalah sertifikasi audio yang disematkan oleh Japan Audio Society (JAS) untuk berbagai perlengkapan audio yang dapat mendukung audio beresolusi tinggi (biasanya minimal mendukung frekuensi 40 kHz atau dengan frekuensi sampling rate dan bit depth 96 kHz/24 bit). Jika kamu tergabung di berbagai grup audio, baik di dunia maya atau di dunia nyata, istilah Hi-Res Audio sudah menjadi hal biasa yang diperbincangkan hingga diperdebatkan.

Terlepas apakah Hi-Res Audio adalah gimmick perusahaan untuk menjual produk atau bukan, stiker Hi-Res pada perlengkapan audio, baik digital-to-analog converter (DAC), digital audio player (DAP) atau headphone, sudah cukup bikin seseorang bisa menyombongkan diri dari segi audio.

Akan tetapi, percuma saja jika perlengkapanmu Hi-Res tetapi file yang kamu dengarkan masih berformat standar seperti MP3 atau M4A. Jadi, file seperti apa yang harus kamu unduh agar dapat benar-benar menikmati pengalaman musik Hi-Res?

1. AIFF

Format Hi-Res Audio pertama yang akan kita bahas kali ini adalah Audio Interchange File Format (AIFF). Dikembangkan pada 1988 oleh Apple, AIFF diadaptasi dari format Interchange File Format (IFF) buatan Electronic Arts/EA (iya, perusahaan pengembang game itu, lho) pada 1985.

Dari segi kualitas suara, AIFF menggunakan format pulse code modulation (PCM) untuk meminimalisir hilangnya kualitas suara dengan rentang dari 16 bit hingga 24 bit. AIFF dapat memuat banyak channel dari mono, stereo, 5.1, 8, dan jenis channel lainnya.

Amat disayangkan, dengan kualitas kelas atas, kamu harus menyiapkan penyimpanan ekstra. Dikarenakan bersifat uncompressed, satu menit file AIFF sama dengan 10 MB, setara dengan satu file MP3 320 kbps dengan durasi 3 menit!

2. WAV

Dikembangkan oleh Microsoft dan IBM pada 1991, Waveform Audio File Format (WAV) bisa dibilang adalah saingan dari AIFF. Jika kamu biasa bekerja di dapur rekaman, WAV adalah format yang biasa dipakai oleh studio musik.

Baik AIFF dan WAV memiliki karakteristik suara yang sama, kejernihan yang sama, ukuran yang mirip, dan compatible untuk Windows dan Macintosh pada zamannya. Oleh karena itu, mereka berdua memiliki kemiripan.

WAV dan AIFF memiliki kualitas audio yang 11-12! WAV juga menggunakan format pulse code modulation (PCM) untuk meminimalisir hilangnya kualitas suara dengan rentang dari 16 bit hingga 24 bit. Biasanya, format WAV yang dipakai adalah stereo dengan sampling dan bit depth 44,1 kHz/16 bit.

Sama-sama bersifat uncompressed, WAV juga memiliki ukuran file yang relatif besar. Satu menit file WAV sama dengan 10 MB, sama dengan file MP3 dengan durasi 3 menit! Itu karena ukuran WAV ditentukan dari durasinya. Sayangnya, jika menggunakan kualitas yang lebih tinggi, format WAV terbatas pada ukuran maksimum 4 GB karena header 32 bitnya. Jika kekeh ingin didongkrak, WAV dapat diproduksi dengan format RF64.

3. FLAC

Kepanjangan dari Free Lossless Audio Codec, FLAC adalah salah satu format file musik Hi-Res yang sering diunduh oleh para audiophile. Saking maraknya, tidak jarang FLAC abal-abal tersebar di dunia maya. Sudah diunduh, malah tidak Hi-Res!

Dikembangkan oleh Xiph.Org Foundation pada 2001, FLAC adalah tipe file audio yang sudah di-compressed hingga berukuran setengah dari file uncompressed di atas, tanpa mengurangi kualitas audio yang Hi-Res, beda dengan file yang sudah di-compressed dan lossy seperti MP3. Oleh karena itu, namanya "Lossless".

FLAC menawarkan sampling dan bit depth mulai dari 44,1 kHz/16 bit (kualitas CD) hingga 192 kHz/24 bit! Pastinya, dengan FLAC 192 kHz/24 bit, kamu bisa merasakan detail-detail terkecil dalam lagu yang hilang dibandingkan dengan MP3.

4. ALAC

Mengikuti pasar musik lossless, Apple juga menciptakan format musik lossless-nya sendiri pada 2004, yaitu Apple Lossless Audio Codec (ALAC). Memiliki karakter seperti FLAC, ALAC hanya berukuran setengah dari file WAV.

Hanya saja, ALAC ditujukan untuk para audiophile yang tetap setia menggunakan produk Apple. Hal tersebut dikarenakan layanan musik Apple, iTunes, tidak mendukung format FLAC, sehingga Apple terpaksa menciptakan versinya sendiri.

Dalam hal kualitas, bit depth ALAC (16 bit) harus kalah dengan FLAC (24 bit). Setidaknya, jika dibandingkan MP3 atau AAC (format umum file musik Apple), ALAC masih lebih baik.

5. DSD

Saat Sony dan Philips memperkenalkan format Super Audio Compact Disk (SACD) pada 1999, mereka menggunakan format Direct Stream Digital (DSD) untuk SACD. Hingga saat ini, DSD dikenal sebagai salah satu format Hi-Res Audio secara digital, meskipun masa kejayaan SACD sudah sirna.

Format DSD memiliki frekuensi sampling yang bahkan lebih tinggi dibandingkan FLAC dan WAV, dengan minimal 2,8 MHz, 5,6 MHz hingga 11,2 MHz dengan metode kuantisasi 1 bit. Batas bawahnya saja 64 kali lebih baik dibandingkan dengan kualitas CD biasa.

Bersifat Hi-Res, DSD juga menawarkan kualitas suara yang riil dengan separasi yang jelas dan detail suara yang terlewatkan oleh file musik biasa. Terlebih lagi, dengan metode 1 bit tersebut, suara yang dihasilkan lebih jernih dan bising serta distorsi yang benar-benar minim.

Akan tetapi, dikarenakan bersifat uncompressed dan lossless, ukuran file DSD "memakan tempat" yang lebih besar dibandingkan FLAC atau ALAC. Satu file DSD saja bisa mencapai 300 - 400 MB, sehingga jarang layanan streaming musik yang memuat format DSD.

Itulah perbedaan format-format Hi-Res Audio mulai dari AIFF hingga WAV. Sebagai win-win solution, tentu saja kami menyarankan FLAC yang tidak makan tempat dan tetap beresolusi tinggi.